Translate

Kamis, 02 April 2026

Dunia Mengakui Film Indonesia. Indonesia Sendiri Tidak.

 


Jakarta, 31 Maret 2026 – Ini bukan ironi kecil. Ini kegagalan besar yang terus diulang.

Ketika film pendek Indonesia tampil di Clermont-Ferrand International Short Film Festival—festival paling bergengsi di dunia untuk kategori tersebut—yang terjadi justru bukan euforia nasional, melainkan keheningan.

Tidak ada gelombang penonton. Tidak ada distribusi luas. Tidak ada sistem yang siap menyambut.

Sebaliknya, karya-karya itu “pulang” lewat acara Clermont-Ferrand Night di Institut français d’Indonésie (IFI)—sebuah ruang yang justru difasilitasi oleh pihak asing.

Pertanyaannya sederhana, tapi menyakitkan:
mengapa film Indonesia harus diakui di luar negeri dulu, baru dianggap layak di dalam negeri?

 


 

Mari berhenti menyalahkan penonton.

Masalahnya bukan pada minat masyarakat, tapi pada sistem yang tidak pernah benar-benar dibangun:

  • Tidak ada jaringan distribusi film pendek yang kuat
  • Tidak ada insentif industri untuk karya non-komersial
  • Tidak ada keberanian kebijakan untuk keluar dari logika box office

Akibatnya?
Film pendek Indonesia hidup seperti “underground”—bahkan di negaranya sendiri.

(AGS)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar