Kehadiran film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa
di layar lebar tahun 2026 kembali menegaskan satu hal: industri film horor Indonesia masih sangat bergantung pada kekuatan nostalgia.
Film produksi Soraya Intercine Films ini mencoba menghidupkan kembali aura legenda Suzzanna, namun pada saat yang sama memperlihatkan problem lama perfilman nasional, yakni keberanian kreatif yang belum sepenuhnya tumbuh.
Disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis dan dibintangi Luna Maya serta Reza Rahadian, film ini memiliki semua unsur untuk menjadi karya horor besar: produksi rapi, aktor kuat, dan nama legendaris. Namun pertanyaan mendasar tetap muncul — apakah film ini benar-benar membawa sesuatu yang baru, atau sekadar mengulang formula yang sudah terbukti laku?
Nostalgia sebagai kekuatan sekaligus kelemahan
Tidak bisa dipungkiri, nama Suzzanna adalah ikon horor Indonesia. Menghidupkan kembali karakter tersebut adalah strategi yang secara bisnis sangat masuk akal. Penonton Indonesia memiliki ikatan emosional dengan film-film horor klasik, dan industri memanfaatkan hal itu.
Namun di sinilah letak persoalannya.
Ketika nostalgia dijadikan fondasi utama, ruang untuk eksperimen sering kali mengecil.
Film ini masih memakai pola lama:
perempuan tersakiti, santet, dendam, kematian tragis, dan balas dendam dari alam gaib.
Formula ini pernah berhasil, tetapi ketika diulang tanpa pendekatan baru, hasilnya terasa aman, bahkan terlalu aman untuk ukuran film modern.
Industri tampak lebih memilih kepastian pasar daripada risiko artistik.
(AGS)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar