Translate

Minggu, 12 April 2026

Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa” (2026), Antara Warisan Legenda dan Industri Horor yang Kehabisan Imajinasi

 


Kehadiran film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa
di layar lebar tahun 2026 kembali menegaskan satu hal: industri film horor Indonesia masih sangat bergantung pada kekuatan nostalgia. 

Film produksi Soraya Intercine Films ini mencoba menghidupkan kembali aura legenda Suzzanna, namun pada saat yang sama memperlihatkan problem lama perfilman nasional, yakni keberanian kreatif yang belum sepenuhnya tumbuh.

Disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis dan dibintangi Luna Maya serta Reza Rahadian, film ini memiliki semua unsur untuk menjadi karya horor besar: produksi rapi, aktor kuat, dan nama legendaris. Namun pertanyaan mendasar tetap muncul — apakah film ini benar-benar membawa sesuatu yang baru, atau sekadar mengulang formula yang sudah terbukti laku?

 


Nostalgia sebagai kekuatan sekaligus kelemahan

Tidak bisa dipungkiri, nama Suzzanna adalah ikon horor Indonesia. Menghidupkan kembali karakter tersebut adalah strategi yang secara bisnis sangat masuk akal. Penonton Indonesia memiliki ikatan emosional dengan film-film horor klasik, dan industri memanfaatkan hal itu.

Namun di sinilah letak persoalannya.
Ketika nostalgia dijadikan fondasi utama, ruang untuk eksperimen sering kali mengecil.

Film ini masih memakai pola lama:
perempuan tersakiti, santet, dendam, kematian tragis, dan balas dendam dari alam gaib.
Formula ini pernah berhasil, tetapi ketika diulang tanpa pendekatan baru, hasilnya terasa aman, bahkan terlalu aman untuk ukuran film modern.

Industri tampak lebih memilih kepastian pasar daripada risiko artistik.

(AGS)

Kamis, 09 April 2026

Na Willa (2026): Kisah Hangat Dunia Anak yang Penuh Imajinasi

 

    Industri film Indonesia kembali menghadirkan tontonan keluarga yang berbeda melalui film Na Willa, sebuah film anak yang dirilis pada tahun 2026 dan disutradarai oleh Ryan Adriandhy. Film ini hadir di tengah dominasi film horor dan drama dewasa, sehingga kehadirannya menjadi warna tersendiri bagi perfilman nasional, khususnya dalam genre film anak dan keluarga yang masih tergolong jarang diproduksi secara serius di Indonesia.

Cerita sederhana dari sudut pandang anak

    Film Na Willa mengisahkan kehidupan seorang anak perempuan kecil yang tumbuh dalam lingkungan keluarga sederhana pada masa Indonesia era 1960-an. Melalui sudut pandang anak, film ini menampilkan dunia yang terasa luas, penuh rasa ingin tahu, dan kadang dipenuhi imajinasi yang hanya bisa dipahami oleh anak-anak.

    Alih-alih menghadirkan konflik besar, film ini lebih fokus pada pengalaman sehari-hari, hubungan antara anak dan orang tua, serta proses tumbuh kembang yang sering kali tidak disadari oleh orang dewasa. Pendekatan seperti ini membuat film terasa hangat, personal, dan dekat dengan kehidupan keluarga Indonesia.


Kesimpulan

    Film Na Willa (2026) merupakan tontonan keluarga yang hangat, sederhana, namun penuh makna. Dengan sudut pandang anak yang kuat, nuansa nostalgia, dan pesan tentang hubungan keluarga, film ini layak menjadi salah satu film anak Indonesia yang patut diapresiasi tahun ini.

    Bukan film yang penuh aksi, tetapi film yang mengajak penonton mengingat kembali masa kecil, memahami dunia anak, dan melihat keluarga dari perspektif yang lebih lembut.

(AGS)

Kamis, 02 April 2026

Dunia Mengakui Film Indonesia. Indonesia Sendiri Tidak.

 


Jakarta, 31 Maret 2026 – Ini bukan ironi kecil. Ini kegagalan besar yang terus diulang.

Ketika film pendek Indonesia tampil di Clermont-Ferrand International Short Film Festival—festival paling bergengsi di dunia untuk kategori tersebut—yang terjadi justru bukan euforia nasional, melainkan keheningan.

Tidak ada gelombang penonton. Tidak ada distribusi luas. Tidak ada sistem yang siap menyambut.

Sebaliknya, karya-karya itu “pulang” lewat acara Clermont-Ferrand Night di Institut français d’Indonésie (IFI)—sebuah ruang yang justru difasilitasi oleh pihak asing.

Pertanyaannya sederhana, tapi menyakitkan:
mengapa film Indonesia harus diakui di luar negeri dulu, baru dianggap layak di dalam negeri?

 


 

Mari berhenti menyalahkan penonton.

Masalahnya bukan pada minat masyarakat, tapi pada sistem yang tidak pernah benar-benar dibangun:

  • Tidak ada jaringan distribusi film pendek yang kuat
  • Tidak ada insentif industri untuk karya non-komersial
  • Tidak ada keberanian kebijakan untuk keluar dari logika box office

Akibatnya?
Film pendek Indonesia hidup seperti “underground”—bahkan di negaranya sendiri.

(AGS)


Rabu, 07 Desember 2022

Review The Curse of Rosalie: Teror Keluarga yang Mengerikan

 


The Curse of Rosalie menceritakan tentang pasangan Daniel (Will Klipstine) dan Theresa Snyder (Amanda MacDonald) yang memindahkan putri mereka yang bermasalah, Rosalie (Madeleine McGraw), ke kota kecil bernama Midwestern. Niatan untuk hidup tenang dan damai akhirnya pupus ketika satu-persatu tetangga mereka malah mati secara misterius.

Warga kota tersebut lalu mencurigai bahwa Rosalie lah penyebabnya. Untuk menyelamatkan nyawa serta nama baik keluarganya, Daniel pun berusaha mengungkap legenda yang mungkin menjadi kunci atas semua persoalan berbau supranatural tersebut.

Sebagai tontonan yang berpijak di koridor horor, The Curse of Rosalie ternyata dibekali trik menakut-nakuti yang boleh dikata cukup mumpuni. Will Klipstine yang juga bertindak sebagai sutradara di sini mengeluarkan kengerian melalui perpaduan atmosfer yang mengusik ketenangan batin, setidaknya di paruh pertama film.

Sayangnya, meskipun memiliki premis yang menarik, film ini tidak pernah benar-benar mampu menggali maupun menyelami premisnya tersebut untuk dikembangkan menjadi sebuah pengisahan yang lebih kuat.

Fokus pengisahan dalam naskah cerita garapan Will bersama Amy Mills ini seperti hanya terpaku pada momen-momen krusial dalam linimasa transisi perubahan sikap dari karakter Rosalie tanpa pernah berusaha untuk menghadirkan detil yang lebih rinci tentang sang karakter. Belum lagi background karakter dari keluarga Snyder yang masih kurang tergali.

Hal inilah yang kemudian menyebabkan pertanyaan-pertanyaan seperti latar belakang keberadaan karakter Rosalie atau apa yang mendorong perubahan sikapnya sama sekali tidak terjawab dengan lugas.

Pun begitu, The Curse of Rosalie jelas bukanlah sebuah film yang buruk. Walau terasa hanya mengedepankan momen-momen dalam penceritaan daripada menyajikan sebuah jalinan kisah yang lebih padat dan berisi, sang sutradara setidaknya berhasil menunjukkan kemampuan pengarahan ceritanya yang cukup apik.

 


 

Menyajikan filmnya dalam alur penceritaan yang cepat, Will tetap memberikan ruang yang cukup bagi para karakter dalam film ini untuk membentuk jalinan hubungan emosional dengan para penontonnya, khususnya karakter yang dimainkan oleh Irene Bedard yang memiliki bangunan karakter terkuat sebagai seorang cenayang.

Namun, Will Klipstine benar-benar menunjukkan kehandalan pengarahannya ketika menyajikan elemen horor dalam film ini. Sejak The Curse of Rosalie mulai menghadirkan adegan horornya, Will menjadikan film ini sebagai sebuah taman bermain bagi adegan-adegan beraroma kematian yang tak jarang dipenuhi dengan darah.

Deretan adegan menegangkan itulah yang menjadi saat-saat terbaik bagi film ini. Dipadukan dengan kehandalan Will untuk mengeksekusi adegannya dengan kualitas produksi yang maksimal, The Curse of Rosalie berhasil memberikan beberapa momen horor yang jelas tidak akan mudah dilupakan begitu saja bagi siapa saja yang menyaksikannya.

Kualitas pengarahan yang diberikan oleh Will jelas juga sangat terdorong oleh penampilan yang diberikan para pengisi departemen aktingnya. Will bersama Amanda berhasil menghadirkan chemistry yang hangat dan meyakinkan sebagai pasangan suami istri. Chemistry yang kemudian akan membuat setiap penonton turut merasa perih dengan tragedi yang kemudian menghampiri pasangan tersebut.

Pada akhirnya, terlepas dari kekurangan dari segi penulisan naskahnya, The Curse of Rosalie adalah sebuah film yang sayang untuk dilewatkan pengalaman sinematisnya. Seru, tegang, mengerikan, sekaligus ngilu adalah efek yang bisa didapatkan seusai menonton film ini.

(JP)

Jumat, 26 Agustus 2022

Memory, Pembunuh Yang Alzheimer

 



Memory merupakan film aksi thriller asal Amerika Serikat yang akan tayang mulai besok, Rabu (18/5/2022) di jaringan bioskop di Indonesia. 

Karya dari Martin Campbell ini dibintangi oleh sederet aktor kenamaan seperti Liam Neeson, Guy Pearce, Monica Bellucci, Taj Atwal, hingga Ray Fearon. Film Memory diadaptasi dari sebuah buku berjudul De Zaak Alzheimer karya penulis Belgia, Jef Geeraerts, dan remake film The Memory of a Killer.

Kisahnya mengikuti kehidupan seorang pembunuh ahli bernama Alex (Liam Neeson). Ia hendak pensiun dari pekerjaannya tersebut sebelum tawaran terakhir untuk membunuh datang kepadanya. Alex kemudian menolak tawaran tersebut sebab ia menyadari bahwa ia harus membunuh seorang gadis muda. Hal itu pun melanggar kode pekerjaannya. 

Hingga pada akhirnya Alex mengetahui bahwa gadis tersebut telah dibunuh oleh pembunuh bayaran lain. Alex kemudian bertekad untuk memburu dan membunuh orang-orang yang telah mempekerjakannya. Terlebih, sosok pembunuh gadis yang sebenarnya masih dalam tahap rehabilitasi setelah kematian ayahnya.




Alex harus segera menyelesaikan misinya sebelum para pembunuh bayaran dan agen FBI, Vincent Serra, menemukannya.

Namun, keadaan mental Alex yang buruk membuatnya melupakan banyak hal sehingga ia mulai mempertanyakan tindakan yang telah ia buat selama ini. Lantas, berhasilkah Alex menuntaskan misinya untuk memburu para pembunuh tersebut?


(JP)



Sabtu, 05 Februari 2022

Moonfall: Ketika Bulan Menjadi Ancaman

Film Moonfall menambah satu koleksi jajaran fiksi ilmiah yang sayang untuk dilewatkan. Mengisahkan ancaman bulan yang siap jatuh ke bumi. Hadir sebagai pemain; Halle Berry, Patrick Wilson, John Bradley, Michael Peña hingga Donald Sutherland. Sementara itu, Roland Emmerich berada di kursi sutradara. Sebagai informasi, sang sineas merupakan sosok di balik kesuksesan film Godzilla, The Day After Tomorrow hingga 2012.
Film Moonfall dibintangi oleh Halle Berry, Patrick Wilson, John Bradley, Michael Pena, Charlie Plummer, Kelly Yu, dan Donald Sutherland. Moonfall bercerita tentang jatuhnya Bulan dari orbit karena kehilangan gravitasi akibat kekuatan misterius di luar angkasa. Jatuhnya Bulan ke Bumi yang tinggal beberapa hari itu akan mengakibatkan bencana dahsyat dan kiamat. Ditinggalkan para pejabat NASA dan Panglima Militer, dua mantan astronot bernama Jocinda “Jo” Fowler (Halle Barry) dan Brian Harper (Patrick Wilson), yakin bahwa mereka mampu menyelamatkan dunia dari kemusnahan. Keyakinan itu didukung oleh KC Houseman (John Bradley), pemuda penggila teori konspirasi yang menemukan teorinya sendiri tentang bencana itu.
Dalam 'Moonfall', sebuah kekuatan misterius menjatuhkan Bulan dari orbitnya mengelilingi Bumi dan mengirimkannya ke jalur tabrakan dengan kehidupan seperti yang kita kenal. Hanya beberapa minggu sebelum dampak dan dunia di ambang kehancuran, eksekutif NASA dan mantan astronot Jo Fowler yakin dia tahu cara menyelamatkan planet ini. Tapi, hanya seorang astronot dari masa lalunya, Brian Harper dan seorang ahli teori konspirasi, KC Houseman , yang mempercayainya. Mereka akan melakukan misi terakhir yang mustahil ke luar angkasa, meninggalkan semua orang yang mereka cintai, hanya untuk menemukan bahwa mereka mungkin telah bersiap untuk misi yang salah.

Sabtu, 30 November 2019

8 MAKANAN KHAS KEDIRI WAJIB KAMU COBA




Belum lengkap jika anda sebagai Traveller belum mencoba makanan khas Kediri yang enak, populer dan terkenal. Penasaran apa saja makanannya?, berikut 8 Makanan wajib kamu coba dari Kediri




1. Tahu Takwa
Awalnya  tahu  takwa ini dikenalkan oleh pengusaha asal Cina bernama Bah Kacung, Tahu ini merupakan oleh-oleh khas Kediri sejak tahun 1912.
Pengambilan nama takwa sendiri berasal dari bahasa Mandarin yang berarti aroma. Tahu ini aromanya gurih dan sangat menggoda bahkan sebelum dirasakan di lidah.
Tahu takwa ini mempunyai rasanya gurih dan tidak ada rasa masam sama sekali. Ini dia yang membuat tahu takwa berbeda dengan tahu lainnya. saat digoreng, kulit luarnya crispy, tapi bagian dalamnya tetap lembut.





2. Nasi Pecel Tumpang
Berbicara tentang nasi pecel, sebenarnya makanan satu ini sudah banyak terdapat di berbegai daerah di
Indonesia.
Namun selalu ada ciri khas tersendiri dari nasi pecel di tiap-tiap daerah, salah satunya Kediri. Di Kediri yang paling terkenal adalah Nasi Pecel Tumpang.
Nasi pecel khas Kediri ini biasanya disajikan di atas “pincuk” daun pisang. Biasanya disajikan saat nasi masih mengepul hangat, lalu diatasnya diberi sayuran daun pepaya, daun kenikir, daun ketela pohon, kacang panjang, buah pepaya muda dan kecambah, kemudian disiram diatasnya sambal pecel dan sambal tumpang.
Sambal tumpang ini memiliki bumbu yang komplit, ada rasa pedas, asin, gurih berpadu dengan sambal pecel yang berasa pedas manis.
Setelah disiram sambal tumpang, diatasnya ditaburi lalapan rajangan mentimun, lamtoro dan daun kemangi. Lauk yang biasa disajikan adalah perkedel singkong, tempe atau tahu goreng serta terakhir sebagai pelengkap yaitu di tambahkan peyek.





3. Soto Kediri
Kediri juga mempunya makanan khas berupa olahan yang terbuat dari bahan buah pisang, yaitu gethuk pisang. Gethuk pisang ini memiliki rasa yang manis, sedikit asam dan rasa legit. Gethuk ini dibentuk seperti lontong dan dibalut dengan daun pisang.
Mencari Gethuk Pisang di Kediri ini cukup mudah, karena di sepanjang jalan Dhoho Anda bakal menemukan lapak-lapak yang berjualan gethuk ini.
Untuk membelinya, Anda juga harus berhati-hati dalam memilih. Karena ada penjual yang biasanya membuat Gethuk pisang, tetapi dengan daun pembungkus yang tebal sekali.
Soto juga merupakan makanan yang umum ada di berbagai daerah. Soto Kediri ini juga seperti soto ayam pada umumnya, namun soto ini mempunyai cita rasa yang gurih, nikmat dan sedap yang tidak bisa ditemui pada soto-soto yang lain.
Perbedaan Soto Kediri ini dengan soto ayam lainnya adalah pada kuah soto khas Kediri ini diberi santan sehingga rasa soto ini menjadi semakin gurih dan nikmat.





4. Sate Emprit
Biasanya kalau sate bahan dasarnya adalah daging kambing atau daging ayam, namun berbeda dengan sate emprit khas Kediri ini yang berbahan dasar dari burung emprit. Pengolahanya adalah burung emprit dibakar lalu diolah seperti masakan sate biasanya.
Sebelum dibakar, sate emprit diberi air yang tercampur dengan asam, gula merah, serta bawang putih sebagai penyedap rasanya.
Setelah dibakar lalu dioles dengan bumbu sate yaitu kecap dicampur dengan sambal kacang. Biasanya dalam satu sunduk ada 2 daging burung emprit, di padukan dengan saos bumbu sate dan dalam penyajianya diberi lalapan, seperti timun dan irisan bawang merah.





 5. Sate Bekicot

Kalau sate emprit bahan dasarnya burung emprit, maka sate bekicot ini berbahan dasar daging bekicot. Pusat dari makanan khas Kediri yang satu ini adalah berada di Desa Djengkol, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, tepatnya 10 kilometer dari kawasan Monumen Simpang Lima Gumul.
Didaerah tersebut, selain menyediakan sate bekicot, juga menyajikan makanan olahan dari bekicot lainnya, seperti krengsengan bekicot, kripik bekicot, dan oseng-oseng bekicot.






6. Tahu Poo
Tahu Poo ini berbeda dengan Tahu Takwa, karena ketika digoreng, bagian tengah dari Tahu Poo bisa mengembang (kosong). Tahu Poo ini biasanya paling enak dijadikan camilan bersama sambal petis.
Tahu Poo bisa Anda temui di jalan Yos Sudarso, Anda akan bisa melihat toko Tahu Poo yang penuh dengan orang-orang yang berbelanja oleh-oleh khas Kediri.






7. Stik Tahu Kediri
Tahu Kediri memiliki banyak sekali variasi, salah satunya adalah Stik Tahu. Makanan ringan ini bisa Anda dapatkan di pusat oleh-oleh di jalan Pattimura dan jalan Yos Sudarso.
Makanan ringan yang terbuat dari tahu dan diolah dengan cara tradisional dengan campuran berbagai rempah ini cocok buat Anda yang sedang menjalani program diet.
Jika dibandingkan dengan jenis keripik yang lain, stik tahu ini memiliki tekstur lembut tapi tetap crispy ketika digigit.
Jika Anda berkunjung ke Kediri, rasanya tidak afdol jika belum mencicipi dan membawa pulang oleh-oleh stik tahu ini.






8. Gethuk Pisang
Kediri juga mempunya makanan khas berupa olahan yang terbuat dari bahan buah pisang, yaitu gethuk pisang. Gethuk pisang ini memiliki rasa yang manis, sedikit asam dan rasa legit. Gethuk ini dibentuk seperti lontong dan dibalut dengan daun pisang.
Mencari Gethuk Pisang di Kediri ini cukup mudah, karena di sepanjang jalan Dhoho Anda bakal menemukan lapak-lapak yang berjualan gethuk ini.
Untuk membelinya, Anda juga harus berhati-hati dalam memilih. Karena ada penjual yang biasanya membuat Gethuk pisang, tetapi dengan daun pembungkus yang tebal sekali.

So buruan tuk kunjungi Kediri Yah....(ti_an)


ARCA DWARAPALA TERBESAR DI JAWA TIMUR ADA DI KEDIRI








Benda purbakala berupa arca Dwarapala ditemukan di area Candi Gempur, Desa Adan adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Arca setinggi 180 Cm itu diduga peninggalan Kerajaan Kadiri.

Arca yang terbuat dari batu andesit ini sangat berbeda dengan arca Dwarapala yang ditemukan oleh tim Arkenas di daerah Jawa Tengah, pada lengan dan bahu arca ini terlihat membawa tali tambang.

Dwarapala merupakan patung dengan ketinggian 180 centimeter, gambaran penjaga sebuah bangunan suci atau penting dimasa itu, atau bisa juga penjaga pintu masuk candi. Menurut petugas, arca ini merupakan peninggalan Kerajaan Kadiri yang berusia sekitar 650 tahun.

Sukmawati Susetyo, Ketua Tim Pusat Penelitian Arkenas mengatakan, patung Dwarapala di Kediri ini terbilang ukuran sedang, namun Makaranya, merupakan terbesar di Jawa Timur, 2,3 Meter.

Makara merupakan perpaduan sejumlah binatang mistis yang biasa berada di pinggir bibir tangga sebelum masuk candi.

Selain berbeda dengan Dwarapala lainnya, Maha karya Ini terbilang cukup besar, paling besar malah di Jawa Timur. (ti_an)


CANGKULAN WARGA KEDIRI TEMUKAN ARCA GANESH






Cangkulan Supriyanto (45) di rumah Nursamsu warga Dusun Kwagean, Desa Krenceng, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri mengencengakan dan menjadi sorotan warga sekitar dan para Arkeolog.

Cangkulan yang awalnya mau dibangun septic tank rumah Nursamsu berubah menjadi penemuan Arca Ganesha.

Awalnya Supriyanto menggali lubang septic tank serta memasang dua bis beton. Namun cangkul pada kedalaman sekitar 2 meter kemudian mengenai batu bata berukuran besar. Selanjutnya batu bata kuno dengan ukuran tebal 8 cm dengan pajang dan lebar masing-masing 20 cm. Kondisi batu bata ini sudah banyak yang pecah.

Saat batu bata kuno itu diangkat kemudian ditemukan Arca Ganesha dalam kondisi miring tertimbun di antara tumpukan pecahan batu bata. Selanjutnya dengan tangan gemetaran Supriyanto mengangkat Arca Ganesha dengan ukuran tinggi 30 cm dan berat sekitar 8 kg.

Arca Ganesha terbuat dari batu andesit ini kondisinya masih utuh. "Saat pertama kali melihatnya sempat kaget dan merinding. Malahan saat arca saya angkat, tangan saya juga gemetaran ketakutan," ungkapnya.

Supriyanto mengaku sudah sering menggali sumur, namun baru pertama kali menemukan arca yang diduga peninggalan sejarah.

Petugas dari Pemkab Kediri yang menangani peninggalan benda bersejarah dan diteliti petugas dari Balai Peninggalan Cagar Budaya Trowulan membenarkan bahwa acra itu betul Arca Genesha. (ti_an)