Era Jayabaya yang menjadikan pusat kerajaan berada di Dahanapura
di bawah kaki Gunung Kelud adalah strategi yang sangat jitu. (Gonda, 1925 : 111).
Roda perekonomin dari Kerajaan Kediri memang sungguh lancar,
sehingga Kerajaan Kediri disebut sebagai negara yang Gemah Ripah Loh Jinawi Tata
Tentrem Karta Raharja.
Dahanapura atau Daha yang terletak pada kaki Genung Kelud
memiliki kualitas tanah yang sangat subur, sehingga sektor pertanian dan perkebunan
berlimpah ruah.
Di tengah-tengah kotanya juga terdapat aliran sungai brantas,
yang airnya sangat bening serta banyak dihidupi oleh ikan air tawar yang kaya akan
protein dan juga gizi yang tinggi.
Berdasarkan keterangan yang tercantum dalam kitab Chi-Fan-Chi
dan kitab Ling-wai-tai-ta. mencatat Dalam kehidupan ekonomi Kerajaan Kediri berasal
dari usaha perdagangan, peternakan, dan pertanian.
Kerajaan Kediri juga terkenal sebagai kawasan penghasil beras,
kapas, dan pemelihara ulat sutra, emas, perak, daging dan kayu cendana. Oleh karena
itu, perekonomian Kerajaan Kediri sudah dipandang cukup makmur.
Kemakmuran rakyatnya adalah program dari raja jayabaya,
untuk memberikan pemasukan ke kas / wadah penghasilan kerajaan, maka
diberlakukan pajak untuk seluruh anggota wilayah kerajaan, Adapun bentuk pajak berupa
beras, kayu, serta palawija.
Kemampuan dari Pengumpulan pajak kepada pihak kerajaan merupakan
program memberikan penghasilan tetap kepada para pegawai atau rakyatnya.
Hasil bumi dari Kerajaan Kediri tak hanya dimanfaatkan sendiri,
hasil tersebut juga telah diekspor ke Kota Jenggala, dekat Surabaya dengan menggunakan
perahu untuk menyusuri sungai. Dikisahkan juga banyak daerah di Nusantara disuplai
dari Kerajaan Kediri, adapun Komoditas Dagang Kerajaan Kediri pada saat itu yakni:
beras, emas, perak, daging, dan kayu cendana.
Kerajaan Kediri di era Jayabaya tercatat di sejarah bahwa
diera Jayabayalah masa keemasan Kerajaan Kediri tercapai.(ti_an)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar