Translate

Selasa, 26 November 2019

MAHAKARYA DI ERA KERAJAAN KEDIRI








Pada era Kerajaan Kediri Peradaban tatanan kesastraan memulai mentas dan pencarian keberadaan kediri terbantu oleh Maha Karya yang tertuang dalam sastra ataupun bangunan candi, dan arca yang tersebar di wilayah Kerajaan.

Kitab bernama Kakawin Smaradahana yang juga dikenal dalam kesustraan Jawa sebagai Panji mencatat perkembangan Kerajaan Kediri seiring bertambah waktu kerajaan berkembang menjadi besar dan kuat di wilayah Jawa.

Dari penamaan Kediri beberapa pakar menyebutkan, bahwa arti dari nama Kediri berasal dari kata “Kedi” yang bermakna “Mandul” atau “Wanita yang tidak berdatang bulan”.

Sedangkan menurut kamus Jawa Kuno Wojo Wasito, “Kedi” memiliki makna Orang Kebiri Bidan atau Dukun.

Dalam perlakonan wayang, sang arjuno juga sempat menyamar menjadi guru tari di Negara Wirata yang bernama “Kedi Wrakantolo”.

Sehingga bila dihubungkan dengan salah seorang tokoh Dewi Kilisuci yang bertapa di Gua Selomangleng, “Kedi” memiliki arti Suci atau Wadad.

Sedangkan, kata “diri” memiliki arti Adeg, Angdhiri, menghadiri atau menjadi Raja (bahasa Jawa Jumenengan).

Maka dari itu, dapat pula kita temukan dalam prasasti “WANUA” tahun 830 saka yang berbunyi:

” Ing Saka 706 cetra nasa danami sakla pa ka sa wara, angdhiri rake panaraban” yang berarti pada tahun saka 706 atau 734 Masehi, bertahta Raja Pake Panaraban.

Nama dari Kediri sendiri banyak terdapat dalam kesusatraan Kuno yang menggunakan bahasa Jawa Kuno, diantaranya: Kitab Samaradana, Pararaton, Negara Kertagama serta Kitab Calon Arang.

Sama halnya dengan prasasti lain yang juga menyebutkan nama Kediri di dalamnya, seperti: Prasasti Ceber berangka tahun 1109 saka yang berada di Desa Ceker, yang sekarang telah berubah menjadi Desa Sukoanyar Kecamatan Mojo.

Di dalam prasati tersebut juga disebutkan, bahwa penduduk Ceker juga berjasa kepada Raja, sehingga mereka memperoleh hadiah berupa “Tanah Perdikan”.

Tak hanya itu, dalam prasasti itu juga tertulis “Sri Maharaja Masuk Ri Siminaninaring Bhuwi Kadiri” yang memiliki arti raja sudah kembali kesimanya, atau harapannya di dalam Bhumi Kadiri.

Prasasti Kamulan yang berangkat tahun 1116 saka di Desa Kamulan Kabupaten Trenggalek, dan menurut Damais, tepatnya pada tanggal 31 Agustus 1194, prasasti itu menyebutkan nama Kediri diserang oleh seorang raja dari kerajaan sebelah timur.

“Aka ni satru wadwa kala sangke purnowo”, maka dari itu raja meninggalkan istananya yang beradad di Katangkatang (“tatkala nin kentar sangke kadetwan ring katang-katang deni nkir malr yatik kaprabon sri maharaja siniwi ring bhumi kadiri”).

Kemudian, Tatkala Bagawantabhari mendapatkan anugerah berupa tanah perdikan dari seorang Raja Rake Layang Dyah Tulodong yang juga tertulis dalam ketiga prasasti yang bernama Harinjing.

Pada awalnya, Kediri merupakan sebuah kerajaan kecil yang kemudian berkembang dan berubah namanya menjadi Kerajaan Panjalu yang besar dan dikenal sampai sekarang.

Bahkan, nama dari Panjalu juga dikenal sebagai Pu-chia-lung dalam kronik Cina yang berjudul Ling wai tai ta (1178).

Pada Zaman Kediri kitab (karya sastra) mengalami perkembangan yang sangat pesat sekali. Sehingga banyak sekali karya sastra terkenal yang telah dihasilkan pada masa kerajaan Hindu ini. Diantara peninggalan kerajaan yang berupa kitab (karya sastra) yang sangat terkenal

Bahkan, masa kepemimpinan Jayabaya juga mengutus Empu Sedah untuk mengubah bahasa dari ikitab Bharatayuda ke dalam bahasa Jawa Kuno.

Namun dalam pembuatannya, Empu Sedah wafat. Sehingga, karyanya diteruskan oleh Empu Panuluh.

Dalam kitab itu, nama Prabu Jayabaya sering disebut sebagai bentuk sanjungan terhadap sang raja. Kita tersebut bertuliskan angka tahun dalam bentuk candrasangkala, sangakuda suddha candrama (1079 Saka atau 1157 M).

Tak hanya itu, Empu Panuluh juga menulis untuk kitab Gatutkacasraya dan Hariwangsa.

Di masa pemerintahan Kameswara juga terdapat beberapa karya sastra, diantaranya sebagai berikut:

Kitab Wertasancaya, berisi mengenai petunjuk mengenai cara untuk membuat syair yang baik. Kitab tersebut ditulis oleh Empu Tan Akung.

Kitab Smaradhahana, merupakan sebuah kakawin yang digubah oleh Empu Dharmaja. Kitab tersebut berisi mengenai pujian kepada sang raja sebagai seorang titisan Dewa Kama. Kitab terssebut juga menceritakan bahwa nama ibu kota kerajaannya ialah Dahana.

Kitab Lubdaka, penulisnya adalah Empu Tan Akung. Kitab tersebut berisi mengenai kisah Lubdaka sebagai seorang pemburu yang pada mestinya masuk neraka. Sebab pemujaannya yang istimewa, ia ditolong dewa serta rohnya diangkat menuju surga.

Kitab Kresnayana merupakan karangan dari Empu Triguna yang isinya menceritakan mengenai riwayat Kresna sebagai anak nakal, namun tetap dikasihi setiap orang sebab ia suka menolong dan juga sakti. Kresna pada akhirnya menikah dengan Dewi Rukmini.

Kitab Samanasantaka merupakan karangan dari Empu Managuna yang menceritakan mengenai kisah Bidadari Harini yang terkena kutukan dari Begawan Trenawindu.

Tak hanya berupa kitab, adapula karya sastra yang dijumpai dalam rupa relief di suatu candi. Contohnya, cerita dari Kresnayana yang dapat kita jumpai pada relief Candi Jago bersamaan dengan relief Parthayajna dan juga Kunjarakarna.

Selain itu juga terdapat prasasti Sebagai berikut :
Banjaran (974 Saka/1052)
Turun Hyang (974 Saka/1052 M)
Hantang (1057 Saka/1135 M)
Padlegan (1038 Saka/1116)
Lawudan (1127 Saka/1205)
Jaring ( 1103 Saka/1181)

Semua Maha Karya  tersebut saling mengajarkan kepada seluruh umat di dunia untuk saling berbuat kebaikan. Karena dengan kebaikan pasti akan tercipta kerukunan dan persatuan umat yang nantinya akan mengarah ke kesatuan bangsa. Bangsa yang sukses adalah bangsa yang bisa menghargai jerih payah rakyatnya sendiri.(ti_an)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar